Tumbang Anoi

Tumbang Anoi adalah sebuah desa bersejarah di Kecamatan Damang Batu, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, yang menjadi tempat diselenggarakannya rapat besar perdamaian adat Dayak pada 22 Mei – 24 Juli 1894. Pertemuan ini mengakhiri tradisi Mengayau (perburuan kepala) dan perbudakan, serta menetapkan hukum adat bersama di Borneo.

Poin Penting tentang Tumbang Anoi:

  • Perjanjian Damai: Diprakarsai oleh tokoh adat, terutama Damang Batu, untuk menghentikan konflik antar sub-suku Dayak (perang, mengayau, dan perbudakan).
  • Dihadiri Banyak Pihak: Rapat tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 152 suku Dayak di seluruh Kalimantan, termasuk perwakilan dari Malaysia dan Brunei.
  • Dampak Hukum Adat: Menghasilkan 96 pasal hukum adat Dayak yang disepakati untuk menjunjung perdamaian dan persaudaraan.
  • Wisata Sejarah & Budaya: Saat ini, Tumbang Anoi dikembangkan sebagai kawasan wisata sejarah, dengan situs Rumah Betang tempat perjanjian berlangsung.
  • Pusat Peradaban Dayak: Tumbang Anoi kini ditegaskan sebagai pusat peradaban dan budaya Dayak yang melambangkan persatuan.

Napak tilas perdamaian Tumbang Anoi sering diselenggarakan untuk mengenang semangat persatuan (seperti tahun 2019) dan menegaskan kembali pentingnya hidup rukun dalam falsafah Belom Bahadat (hidup beradat)

Betang Tumbang Anoi (atau Betang Damang Batu) adalah sebuah situs sejarah dan rumah adat suku Dayak yang terletak di Desa Tumbang Anoi, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Tempat ini sangat sakral bagi masyarakat Dayak karena menjadi lokasi peristiwa bersejarah yang mengubah peradaban suku Dayak di seluruh Kalimantan. 

Berikut adalah poin-poin utama mengenai Betang Tumbang Anoi:

  • Pusat Perdamaian Suku Dayak: Pada tahun 1894, rumah betang ini menjadi tempat berlangsungnya Rapat Damai Tumbang Anoi (Perjanjian Tumbang Anoi). Pertemuan besar ini dihadiri oleh para kepala suku dari seluruh penjuru Kalimantan untuk mengakhiri tradisi mengayau (memenggal kepala) dan perbudakan antarsuku.
  • Simbol Persatuan: Situs ini dianggap sebagai titik nol persatuan dan persaudaraan masyarakat Dayak, di mana disepakati hukum adat yang berlaku bersama untuk menciptakan perdamaian.
  • Rumah Damang Batu: Rumah ini awalnya merupakan tempat tinggal tokoh adat penting bernama Damang Batu, yang menjadi tuan rumah bagi ratusan delegasi selama rapat damai yang berlangsung selama beberapa bulan.
  • Situs Sejarah & Budaya: Saat ini, Betang Tumbang Anoi telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya dan menjadi destinasi wisata sejarah yang sering dikunjungi untuk kegiatan napak tilas oleh masyarakat Dayak maupun wisatawan.

Damang Batu adalah tokoh adat Dayak terkemuka yang disegani karena perannya sebagai penengah dalam Perjanjian Damai Tumbang Anoi (1894) di Kalimantan Tengah. Ia dikenal berjasa menghentikan perang antar suku dan perbudakan, serta diusulkan menjadi pahlawan nasional. Namanya kini diabadikan sebagai kecamatan di Kabupaten Gunung Mas. 

Berikut adalah poin-poin penting terkait Damang Batu:

  • Tokoh Perdamaian: Damang Batu berperan penting dalam meredam konflik dan menyatukan suku-suku Dayak melalui perjanjian Tumbang Anoi.
  • Wilayah: Namanya diabadikan sebagai kecamatan Damang Batu di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, dengan ibukota di Tumbang Marikoi.
  • Warisan Sejarah: Betang Damang Batu di Tumbang Anoi menjadi saksi sejarah pertemuan tersebut.
  • Penghormatan: Tokoh ini diusulkan untuk menerima penghargaan pahlawan nasional atas jasanya dalam menciptakan perdamaian di Kalimantan
Scroll to Top